Home » Artikel Ilmiah » Globalisasi dalam Pendidikan: Perpustakaan Dulu, Kini dan Yang Akan Datang (Menjelang Abad 21)

Globalisasi dalam Pendidikan: Perpustakaan Dulu, Kini dan Yang Akan Datang (Menjelang Abad 21)

Pendahuluan

Judul makalah ini sebenarnya kurang tepat karena pada detik ini kini kita sudah berada apada abad 21, bahkan sudah mencapai sepersepukluh abad. Maka sebaiknya kata “menjelang abad 21”  kita anggap tidak ada.

Globalisasi

Menurut Oxford English Dictionary (OED) istilah globalization atau globalisasi dalam Bahasa Indonesia muncul muncul pertama kali tahun 1930 untuk menunjukkan pandangan holistik (menyeluruh) pengalaman umat manusia dalam pendidikan. Istilah tersebut mulai digunakan dalam pers sekitar dasawarsa 1980 an dengan berbagai definisi dan tafsiran. Economic and Social Council of Western Asia dari PBB mendefinisikan glabalisasi sebagai “istilah yang dapat didefiniskkan dalam berbagai cara. Dalam konteks ekonomi, globalisasi b emngacu padareduksi dan penghilangan rintangan antara batas negara guna memudahkan aliran barang, modal, jasa dan tenaga kerja…walaupun masih ada rintangan menyangkut aliran tenaga kerja.” Globalisasi bukanlah fenomena baru. Globalisasi  mulai akhir abad 19. Kemudian meredup sejak awal Perang Dunia2 hingga perempat terakhir abad 20. Hal itu terjadi karena kebijakan yang melihat ke dalam yang dilakukan oleh berbagai negara guna melindungi industri mereka namun globalisasi berlangsung cepat selama 25 tahun terakhir menjelang berakhirnya abad 20.

Globalisasi berefek pada berbagai bidang sebagaimana diuraikan di bawah ini :

  1. Industri. Munculnya pasar produksi dunia serta akses lebih luas bagi konsumen terhadap produk asing, terutama pergerakan materi danbaranf antara negara.
  2. Keuangan. Munculnya pasar keuangan dunia serta akase yang lebih baik bagi peminjam terhadap keuangan ekstern. Karena struktur dunia tumuh lebih cepat daripada kemapuan mengatur transnasional, maka ketidakstabilan infrastrukturk euangan dunia semakin rapuh. Hal ini dibuktikan dengan adanya krisis keuangan pada tahun 2007- 2010.
  3. Informasi. Meningkatnya arus informasi mencapi lokasi yang terpencil sehingga membenarkan ucapan McLuhan bahwa dunia adalah desa kecil. Hal itu sebenarnya terjadi berkat kemajuan komunikasi optik serat, sateli, dan meningaktnya ketsrediaan telepon dan Internet.
  4. Bahasa. Bahasa paling populer dilihatdari petuturnya adalah bahasa Mandarin (328 juta petutur),Spanyol (329 juta petutur) dan Inggris (328 juta petutur) menyusl bahasa lain seperti bahasa Indonesia (220 juta petutur).  Namun demikian bahasa kedua paling popueer adalah bahasa inggris yang merupakan lingua franca globalisasi. Misalnya lebih dari 50% penggunaan Internet dilakukan dalam bahasa Inggris.
  5. Kebudayaan.Pertumbuhan kontak lintas budaya; munculny kategori baru menyangkut kesadaran dan jati diri yang meliputi difusi budaya, keinginan untuk meningkatykan standar hidup serta menikmati produk dari luar negeri, mengadopsi teknologi dan praktik baru. Di segi lain afa keluhan menyangkut  mk konsumerisme dan lenyapnya bahasa petutur setempat.

Transformasi budaya menyangkut penyebaran multikulturalisme serta akses ke keanekragaman budaya, misal melaui ekspor Hollywood walau pun ada yang menganggapnya sebagai bahaya serta menggoyahkan budaya lokal. Multikulturalisme mendorong perdamaian dan saling mengerti di antara manusia, Ada juga yang mengatakan bahwa ciri multikulturalisme adalah bentuk baru budaya tunggal di dalamnya tidak ada perbedaan dan setiap orang harus menyesuaikan diri atnata berbagai gaya hidup dalam arti musik, pakaian dan aspek lain sementara aspek ini sebelumnya terpaut pada satu budaya tunggal. Contoh yang terjadi di Jerman saat ini ialah migran Turki menetap di Jerman tetap mempertahankan budaya asli namun tidak selalu mau membaur dengan budaya setempat. Sehingga dikatakan Kanselir Jerman mereka menetap di sini namun tidak menyesuaikan dengan budaya Jerman. Upaya penyesuaian tersebut menyangkut pendidikan, kebudayaam ekonomi dan lain-lain. Dalam kaitannya dengan penddiikan  mencakup juga unsur perpustakaan.

Perpustakaan

Pemahaman perpustakaan perlu dikuasai sebelum mulai mebicarakan perpustakaan masa kini karena pengertian perpustakaan sudah berubah seiring dengan perkembangan sejarah serta kemajuan teknologi.

Istilah perpustakaan dapat didekati dengan mengguunakan ancangan definisi dan ciri perpustakaan. Dalam ancangan definisi, maka menurut International Encyclopedia of Library and Information Science (2004) perpustakaan dalam arti sempit adalah koleksi materi [perpustakaan] yang diorganisasi untuk digunakan.Pengertian  tersebut mulai ada sejak zaman perpustakaan Alexandria sampai dengan Perpustakaan Nasional RI, mulai dari  ruang arsip di Nineveh hingga ke depo arsip dinamis di berbagai negara. Pengertian lain yang banyak dipakai adalah gedung, bagian gedung, atau ruangan yang digunakan untuk keperluan penhyimpanan Definisi tersebut sangat sempit karena tidak mencerminkan karakteristik utama perputaaakn pada masa kini. Pembaca dapat menemukan definisi perpustakaan di sumber lain seperti kamus, buku ajar dll.

Dari berbagai sumber tersebut, penggunaan istilah perpustakaan menunjukkan sebuah bangunan fisik , gedung, dengan rak memuat berbagai buku serta materi lain yang telah terorganisasi untuk memudahkan akses serta penggunaannya. Namun demikian istilah perrpustakaan sebagai tempat membaca tidak merupakan definisi lengkap karena definisi tersebut menafikan berbagai aktivitas yang berlangsung di perpustakaan serta peran perpustakaan dalam kehidupan manusia dan masyarakat pada umumnya. Gorman (2009) mengatakan bahwa perpustakaan merupakan konsep yang mencakup jasa perpustakaan,koleksi perpustakaan, staf  perpustakaan, aktivitas yang berlangsung di luar gedung perpustakaan.

Shera (1976) menyatakan bahwa perpustakaan  didirikan guna memenuhi beberapa kebutuhan sosial. Perkembangan perpustakaan berhubungan erat dengan sejarah intelektual dan perubahan struktur organisasi serta sisten nilai dari kebudayaan yang menciptakannya. Karena peran kultural ini, maka perpustakaan telah  ada sejak abad 13 SM. Ada pun perpustakaan modern muncul sekitar abad 15 seiring dengan penemuan kertas.

Perpustakaan pada masa kini terbagi atas 5 kategori sebagai berikut :

  1. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang merupakan bagian dari perguruan tinggi termasuk perpustakaan universitas, institut, sekolah tinggi dandibentuk guba memenuhi kebutuhan informasi dan riset para mahasiswa serta dosen pada lembaga akademik yang merupakan induknya.
  2. Perpustakaan umum merupakan perpustakaan tang didanai pemerintah guna publikdi kawasan tertentu (misalnya kabupetan dan kota) dan dididirkan guna melayani kebutuhan informasi, pendidikan dan rekreasi komunitas.
  3. Perpustakaan khusus yang merupakan bvagian dari lembaga pemerintah, lembaga bisnis dan riset, badan profesionak dan sejenisnya, didirikan guna melayani kebutuhan informasi orang-oran yang bearad dalam badan indubatau kelompok pemakai sasaran atau disiplin spesifik yang dibantu oleh organisasi induk.
  4. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada pada satuan pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah yang merupakan bagian integral dari kegiatan sekolah yang bersangkutan dan merupakan pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan (SNI 7329:2009). Perpustakaan sekolah juga mencakup perpustakaan madrasah. Sebagai sebuah institusi, perpustakaan sekolah mengalami evolusi dilihat dari segi materi mau pun dari segi teknologi.
  5. Perpustakaan nasional. merupakan perpustakaan yang didirikan guna menyimpan terbitan sebuah negara, dimungkinkan berkat undang-undang, tidak punya pemakai spesifik yang datang ke perpustakaan. Yang diutaman ialah perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus, perpustakaan umum sementara kebutuhan informasi perpustakaan sekolah dilayani oleh perpustakaan umum yang berada dalam kawasan sama.

Evolusi bahan pustaka

Dilihat dari segi bahan pustaka,  juga terjadi perubahan. Pada perpustakaan  purba, bahan untuk membuat pustaka. Mula-mula  adalah tanah liat yang menghasilkan lempeng tanah liat (clay tablets). Papyrus yaitu tumbuhan rumput tinggi di rawa –rawa (Cyperus papyrus) yang melimpah di kawasan Afrika Utara, kemudian digunakan oleh orang Mesir bagai media tuli dan permukaannya sejak tahun 3000 SM sampai abad 4, bahkan beberapa dokumen di Vatikan masih menggunakannya sampai abad 11. Upaya penguasa Mesir membatasi ekspor papyrus sebagai bagian  menjadikan perpustakaan Alexandria menjadi perpustakaan terbesar di dunia  serta memaksa negara lain mencari pengganti papyrus. Ditemukan perkamen (parchment) artinya kulit binatang  (biri-biri, kambing atau sapi muda) yang dipisah, kemudian dilembutkan serta sisa daging yang masih melekat dihilangkan dengan air limau. waktu kulit masih basah dikikis sampai mencapai ketebalan tertentu dengan menggunakan alat pemotong disebut lunellum,selanjutnya dikeringkan sambil diregangkan lalu dipoles oleh parchmenter.

Hasil itu digunakan sebagai penjilid buku, media tulis atau untuk cetakan. Perkamen banyak digunakan di Eropa sekitar abad 2 sampai penemuan mesin menggunakan jenis bergerak pada abad 15, walaupun peranannya sebagai media cetak mulai berkurang sejak abad 12 dwengan penemuan kertas. Istilah perkamen berasal dari kata Charta pergamena sedangkan pergamena merupakan ajektif kata Pergamum, sebuah kota kuno di pantai Asia kecil tempat raja Eumenes II mendirikan perpustakaan guna menyaingi pusat kepanditan yang berada  di Alexandria, Mesir. Ada dugaan penggunaan perkamen didorong oleh embargo papyrus yang dilakukan penguasa Alexandria untuk mencegah negara lain menyaingi perpustakaan Alexandria.

Biaya pembuatan perkamen lebih mahal daripada papyrus namun lebih awet daripada papyrus. Selama Abad Pertengahan, perkamen digunakan untuk membuat lembaran buku manuskrip. Itulah sebabnya mengapa buku abad pertengahan sangat tebal karena lembarannya terbuat dari kulit hewan. Karena perkamen cenderung berminyak maka harus digosok dengan ampelas untuk memudahkan penulisan. Perkamen juga lebih gelap dan lancar pada bagian sisis kulit daripada sisi daging, sehingga manuskrip abad pertengahan disusun sisi rambaut berhadapan dengan sisi rambut dan sisi daging berhadapan dengan sisi daging sehingga  bila seorang pemakai membuka manuskrip maka dia akan melihat warna dan tekstur yang sama. Noktah kecil di sisi rambut adalah bekas folikel rambut. Karena perkamen cenderung berubah akibat perubahan suhu dan kelembaban dan bagian yang ada bekas urat cenderung melengkung maka perkamen dijilid dengan menggunakan papan kayu yang emlapis manuskrip.

Papan tersebut dilengkapi dengan tali, jepitan atau pita agar manuskrip tetap terikat dengan baik manakala tidak digunakan. Bahan pustaka beubah lagi dengan diketemukannya kertas di Dunia Barat  Bahan pustaka lainnya ialah vellum Materi tulis tipis dan baik terbuat dari kulit anak hewan baru lahir (biasanya anak sapi, namun dapat juga anak domba, biri-biri dan kijang), disamak dan dipoles dengan alum, digunakan sebagai media tulis selama Abad Pertengahan, sebelum penggunaan kertas di Eropa serta juga digunakan untuk kopi beberapa edisi (termasuk Alkitab Gutenberg) selama  75 tahun pertama penectakan. Vellum juga digunakan sebagai bahan luar pada masa awal penjilidan. Istilah vellum sering disamakan dengan perkamen  namun vellum memiliki mutu lebih baik sebagai materi tulis. Karena vellum terbuat seluruhnya dari kulit hewan yang utuh, maka noktah kecil folikel  rambut terlihat pada satu sisi vellum.  Vellum dapat tahan lama, cenderung keriting atau mengerut ke arah bagian dalam pada kelembaban rendah.

Bahan pustaka di atas berubah ketika mesin cetak diketemukan Gutenberg pada pertengahan abad 15 serta penemuan kertas sebagai bahan pustaka. Penemuan bahan pustaka dapat disevut sebagai sebuah revolusi karena sejak kertas diketemukan, terjadi penurunan drastis pembuatan manuskrip serta praktis melenyapkan bahan pustaka lainnya. Penemuan mesin cetak berpengaruh besar pada penyebaran agama Protestan oleh Martin Luther karena berkat mesin cetak maka poster dan buku dapat dibuat dalam jumlah banyak. Penemuan mesin cetak juga berdampak lain yaitu mulainya pelarangan buku karena buku yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebijakan penguasa. Pada abad 16 pelarangan buku sering disertai dengan perusakan mesin cetak!

Sesudah penemuan kertas sebagai bahan pustaka, menyusul bentuk mikro, selanjutnya ke CD-ROM serta berbagai media digital. Perubahan bahan pustaka itu membawa imbas bahan pustaka baru cenderung memiliki kapasitas simpan lebih besar daripada sebelumnya sehingga memungkinkan mentimpan informasi di ruang yang lebih kecil. Mislakan buku dari kertas yang disimpan di rak akan memerlukan ruang lebih banyak daripada media lain seeprti bentuk mikro atau pun media  digital. Namun demikian ada ironi bahwa media baru penyinpan informasi memiliki kerentanan daripada bahan pustaka sebelumnya, misalnya kertas memiliki daya tahan lebih tingi daripada CD ROM. Situasi masa hidup media baru yang lebih pendek daripada media lainnya menyebabkan perpustakaan menaruh perhatian lebih besar  pada upaya preservasi dan konservasi.

Evolusi teknologi

Khusus untuk perpustakaan terjadi evolusi teknologi yang dimulai selama enam dasawarsa terakhir. Ada pun evolusi teknologi yang terjasdi mencakup :

  1. Perubahan media penyimpan dari cetak ke digital
  2. Penggunaan gawai mekanis dalam pengindeksan dan jasa informasi/dokumentasi terjadi sekitar 1950 an dan 1960 an. Gawai yang digunakan pada dasawarsa ini adalah  kartu tebuk (punched cards) dan kartu untuk Uniterm sebagai pendahulu  temubalik berbasis komputer.
  3. Mulainya penggunaan komputer untuk mengolah informasi. H.P. Luhn menggunakan komputer  untuk membuat indeks kata kunci. Hasilnya ialah KeyWord In Context  (KWIC), Key Word Out of Context dan Key Word And Context (KWAC).
  4. Munculnya pangkalan data bibliografis pada 1960 an.
  5. Jasa penelusuran terpasang (online) seperti Dialog, memungkinkan akses  jarak jauh ke lebih dari satu pangkalan data terpasang.
  6. Munculnya berbagi atau berkongsi dan pertukaran data bibliografis dengan dibuatkannya MARC (Machine Readable Catalogue) pada 1960, kemudian berkembang menjadi MARC 21 yang merupakan format pertukaran data bibliografis.
  7. Perangkat lunak manajemen perpustakaan serta automasi perpustakaan sekitar 1970 an.
  8. Dasawarsa 1980 an media penyimpan seperti CR-ROM mulai banyak digunakan.
  9. Tahun 1980 an juga muncul majalah dan buku  elektronik
  10. Tahun 1990 an muncul Internet dan web, membawa perubahan ebsar di dunia informasi. Semua pencipta dan penyedia jasa informasi menuju Web.
  11. Akhir 1990 an tumbuh perpustakaan digital; pada perpustakaan tesrebut isi dan jasa bersifat digital.
  12. Awal 2000 an,munculnya semantic web, Web 2.0, Library 2.0, teknologi mobil, pita lebar, akses internet nirkabel; informatika sosial berupa Twitter, Facebook, Linkedin, RDA untuk pengolahan (Resource Description and Access).

Pengaruh perubahan sosial dan teknologi

Fosket (1962) mengatakan bahwa kepustakawanan merupakan proses sosial artinya kegiatan perpustakaan tidak dapat terpisah dari kecenderungan sosial yang ada. Bila hal tersebut dikatakan pada tahun 1960 an, maka kepustakawanan masih didominasi kertas dan tergantung pada manusia. Bila dikaitkan dengan situasi 2000 an, maka kepustakawanan kini lebih tergantung pada teknologi dan walau pun kepakaran manusia tetap memegang peran penting, hal itu banyak dilakukan di belakang layar.

Perubahan yang terjadi atass perpustakaan berlangsung perlahan-lahan sehingga dapat dikatakan sebagai evolusi perpustakaan. Evolusi perpustakaan berdasarkan perubahan sosial digambarkan sebagai berikut (Gambar 1).

Tiga tahap evolusi perpustakaan

Gambar 1 Tiga tahap evolusi perpustakaan    

      Sumber Librarianship (2008) dengan ubahan oleh penulis

Bila merunut sejarah perpustakaan, maka sejarah perpustakaan dimulai sekitar tahun 2000 SM di Sumeria, Mesopotamia, Mesir. Pada masa itu perpustakaan merupakan bagian  institusi utama, mul-mula bagian dari kuil, candi, kemudian dari universitas. Perpustakaan merupakan tempat penyimpanan pengetahuan, hanya dapat diakses oleh sekelompok pemakai terbatas. Peran  pustakawan lebih banyak ke perlindungan dan pelestarian pengetahuan daripada peran pemencaran  dan berbagi pengetahuan. Keadaan semacam itu menyebabkan ilmu pengetahuan hanya dikuasai kelompok terbatas sehingga ada bagian ilmu pengetahuan yang hilang. Misalnya semasa Mesir kuno, para pendeta sudah menguasai teknik bedah otak, namun tidak diturunkan atau disebarkan sehingga  keahlian tersebut tersimpan erat-erat di kuil. Baru pada abad 19 dokter mulai mencoba bedah otak, mereka berhasil menemukan dan mengembangkannya lebih lanjut. Hal itu tidak akan terjadi seandainya perpustakaan purba berfungsi menyebarluaskan pengetahuan serta berbagai informasi dengan orang lain.

Ciri perpustakaan sebagai penyimpan pengetahuan untuk digunakan sekelompok pemakai yang terbatas berubah seiring dengan pembangunan perpustakaan baru terutama perpustakaan umum, keterbukaan koleksi perpustakaan perguruan tinggi dan khusus. Koleksi mulai terbuka untuk orang-orang yang dikaitkan dengan lembaga, misalnya mahasiswa dan dosen di perpustakaan perguruan tinggi. Sehingga peran perpustakaan sebagai lembaga yang menyebarkkan pengetahuan mulai berjalan. Hal ini terjadi sekitar abad 19 di Dunia Barat. Perkembangan perpustakaan sebagai pranata sosial juga ditandai dengan kegiatan berbagai koleksi melalui kerjasama dan penyediaan jasa bersalam. Hal itu terjadi akibat perkembangan sosial, ekonomi dan teknologi.

Posisi perpustakaans sekolah          

Perpustakaan sekolah pada masa kini berada di gambar kedua, antara perpustakaan sekolah sebagai bagian dari sekolah sedangkan sekolah merupakan bagian dari masyarakat. Bagi perpustakaan yang telah meningkat menjadi petrpustakaa digital (artinya koleksinya seluruh atau sebahagian dalam bentuk digital , dapat diakses dari mana-mana) maka perpustakaan sekolah sudah menuju perpustakaan maya. Dengan demikian perpustakaan sekolah merupakan institus global karena melayani dunia.

Bagaimana  perpustakaan sekolah di Indonesia?

Di Indonesia terdapat sekitar  250 ribu sekolah, yang memiliki perpustakaan hanya 23 ribu saja. Sementara untuk tenaga pustakawan fungsional yang tersedia saat ini hanya 221 orang saja. Dengan kecilnya jumlah tenaga perpustakaan yang ada labih disebabkan karena kurangnya perhatian pemerintah. Baik dari segi dana untuk mengembangkan perpustakaan di sekolah-sekolah maupun kesejahteraan pegawainya.

Fenomena yang terjadi sekarang, tenaga yang mengisi perpustakaan biasanya adalah guru yang prestasi mengajarnya buruk dan dibuang untuk mengurus perpustakaan. Dari segi kesejahteraan gajinya saja sangat jauh dari gaji guru yang mendapatkan sertifikasi. Jika keadaannya demikian, maka sangat kecil kemungkinan untuk memajukan perpustakaan sekolah.Sinyalemen di atas dikemukakan dalam konvensi perpustakaan sekolah di Yogyakarat tahun ini (http://www.pendidikandiy.go)

Sinyalemen itu benar namun masih ada perpustakaan sekolah yang beroperasi dengan baik. Operasi dan keberadaan perpustakaan sekolah ditentukan oleh kepala sekolah atau yayasan, bukan oleh tenaga perpustakaan sekolah. Maka baik buruknya sebuah perpustakaan sekolah terpulang pada kepala sekolah atau pada yayasan (untuk sekolah swasta) karena kedua kelompok ini yang menentukan eksistensi sebuah perpustakaan sekolah.

Perpustakaan sekolah dan Ujian Nasional

Banyak orang menganggap tidak ada hubungannya antara Ujian Nasional (UN) dengan perpustakaan sekolah. Bila memperhatikan hasi UN tahun 2010 ini, maka kegagalan peserta didik sebahagian besar menyangkut Bahasa Indonesia. Mereka tidak menguasai Bahasa Indonesia karena anak didik tidak bisa membaca soal dengan cermat. Ketidakmampuan membaca soal dengan cermat ini dapat ditelusuri penyebabnya ialah anak didik kurang banyak membaca, terutama novel Indonesia.

Hal ini disebabkan karena pengajaran sastra diabaikan padahal sastra ikut mempengaruhi karakter serta kemampuan baca anak didik. Maka penyediaan bahan bacaan di perpustakaan merupakan suatu keharusan dengan perbandingan 60% nonfiksi dan 40% fiksi (SNI 7329:2009). Hal tersebut sangat berbeda misalnya dengan zaman penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Belanda, setiap siswa harus baca 25 buku setahun, sedangkan sekarang belum tentu siswa membaca buku sastra dalam setahun! (Kompas, 2010).

Kepustakawanan masa kini

Kepustakawanan dapat saja diganti dengan istilah lan amun etos utamanya tetap yaitu jasa. Jasa tersebut adalah menyediakan muatan informasi (bahara) dalam cara yang paling sesuai bagi pemakai. Tiga faset kepustakawanan pada masa kini adalah isi, jasa dan pemakai. Ada pun aktivitas utama pustakawan menurut Gorman (2000) adalah :

  1. Seleksi objek fisik dan sumber daya  digital
  2. Akuisisi dengan pembelian, langganan, hadiah, pertukaran dan mengunduh (download) dari internet.
  3. Organisasi dan akses: pengataklogan, klasifikasi, akses informasi terpasang
  4. Preservasi dan konservasi, sumber fisik dan digital.
  5. Jasa dan pelatihan pemakai, termasuk jasa referensi, peminjaman, pelatihan ketrampilan informasi bagi pemakai.
  6. Manajemen personalia, jasa dan organisasi perpustakaan.

Jasa yang diberikan perpustakaan bagi pemakai dilakukan di dunia fisik (di perpustakaan) mau pun dunia digital. Jasa dalam dunia digitakll tidak dibataso oleh fisik perpustakaan, isi yang diberikan dapat berbentuk fisik atau digital, lokal dan/atau jarak jauh dan maya. Sungguh pun demikian jasa perpustakaan tetap berbasis kerangka sosial dan institusional, dibentuk, dipengaruhi dan dibentuk ulang oleh perubahan sosial dan teknologi. Perubahan sosial meliputi pterubahan politik, ekonomi, pendidikan, hukum dsb, sedangkan perubahan teknologi dapat berupa perangkat keras komputer, fasilitas jejaring, perangkat lunak dan teknologi berkaitab, alat, standar dll. (Gambar 2)

Unsur jasa perpustakaan

Gambar 2 Unsur jasa perpustakaan

Sumber: Librarianship (2008) dengan ubahan oleh penulis

Gambar 2 menunjukkan bahwa kepustakawanan melncakup berbagai aktivitas yang mendekatkan isi dan pemakai. Landasan profesi berdasarkan masyarakat pada umumnya, satu atau lebih lembaga. Pustakawan dan kepustakawana dipengaruhi, dikendalikan oleh tekanana sosial serta perubahan termasuk perubahan politik, ekonomi, kebudayaa, kerangka kerja dan praktik pendidikan serta hukum. Kepustakawanan juga dipengaruhi oleh perubahan teknologi, termasuk teknologi informasi serta alat, teknik dan standar berkaitan.

Gambar 2 juga menunjukkan berbagai faset kepustakawanan, aktivitas yang dilakukan serta ketrampilan yang diperlukan guna melaksanakan tugas, faset kepustakawanan tersebut merupakan ketentuan yang disyaratkan bagi pustakawan abad 21. Ada pun aktivitas yang berkaitan diuraikan di bawah ini.

  • Isi, meliputi :

(i) Manajemen koleksi termasuk seleksi isi dan akuisis ;

(ii) Penciptaan isi meliputi digitalisasi dan atau menunjang penciptaan isi digital oleh pemakai dengan tangkapan informasi menggunakan teknologi digital

(iii) Pengorganisasian dan pengolahan muatan isi termasuk klasifikasi, pengatalogan dan pengindeksan; temu balik informasi; arsitektur informasi dan aktivitas manajemen muatan isi.

(iv) Pengarsipan dan preservasi, artinya semua jenis sumber daya informasi, baik sumber daya fisik mau pun digital.

  • Jasa, aktivitas dan isu yang berkaitan dengan hal ini meliputi :

(i) Jasa pemakai, mulai dari peminjaman sampai jasa referensi

(ii) Manajemen dan pemasaran, termasuk manajemen suber daya dan proyek kegiatan, pemasaran jasa perpustakaan.

(iii) Kebijakan: pembuatan dan/atau implementasi yang sesuai dengan perubahan instiusional dan sosial,undang-undang dan peraturan baru,

(iv) Pengembangan  jasa baru dan terpadu: disain dan pengembangan sistem dan jasa informasi baru termasuk layanan baru     perpustakaan digital, integrasi jasa perpustakaan digital dengan berbagai bidang aplikasi seperti  e-learning, manajemen pengetahuan.

  • Pemakai, aktivitas dan/atau isu berkaitan dengan hal ini menyangkut :

(i) Pendidikan dan pelatihan pemakai termasuk pelatihan ketrampilan informasi, dab pelatihan untuk mempromosikdan dan atau menunjang jasa baru atau yang dimodifikasi.

(ii) Merancangbangun sistem dan jasa beroeintasi pemakai, termasuk disain dan pengembangan jasa yang  cocok untuk ranah dan kelompok pemakai  khas dan atau elompok pemakai dengan kebutuhan informasi khusus.

(iii) Kajian pemakai termasuk survei pemakai dan kajian perilaku informasi pemakai, ketergunaan dan evaluasi jasa perpustakaan dan informasi.

Penutup

Perpustakaan merupakan merupakan perpustakaan yang didirikan guna menyimpan terbitan sebuah negara, dimungkinkan berkat undang-undang, tidak punya pemakai  spesifik yang datang ke perpustakaan. Perpustakaan mengalami revolusi tatkala bahan pustaka berupa kertas dan mesin cetak ditemukan sehingga terjadi perubahan ebsar-besaran dalam koleksi perpustakaan. Dilihat segi bahan pustaka, maka terjadi evolusi bahan pustaka khususnya selama 60 tahun terakhir ini.

Perkembangan teknologi mempengaruhi perkembangan perpustakaan sehingga terjadi adanya perpustakaan maya yang koelksinya dapatd iakses dari mana-mana dan dengan demikian perpustakaan maya merupakan p\bagian dari institusi global. Menyangkut perpustakaan sekolah di Indonesia masih dalam kondisi kurang baik. Bila memperhatikan posisi perpustakaan sekolah Indonesia, maka kedudukannya masih berada pada perpustakaan modern belum menjangkau perpustakaan maya.

Keberadaan perpustakaan sekolah serta keberhasilannya banyak ditentukan oleh kebijakan kepala sekolah atau yayasan (bagi sekolah swasta). Tenaga perpustakaan sekolah diharapkan mampu mengeloa perpustakaan sekolah dengan bantuan sepenuhnya kepala sekolah dan atau yayasan. Untuk mampu mengelola peprustakaaan sekolah, diharapkan tenaga perpustakaan sekolah memiliki kompetensi yang sesuai.

Bibliografi

Foskett,D.J. (1962). The creed of a librarian: no politics, no religion, no morals. (Library Association, Reference, Special and Information Section, North Western Group, Occasional papers, no. 3)

Gorman (2000). Our enduring values: Librarianship in the 21st ceentury. Chicago: American Library Association

Gorman, M (2006) What is librarianship and what does a librarian need  to know?

http://www.pendidikan-diygo.id?view=baca_berita8id_sub=1421. Diunduh tanggal 23 Oktober 2010

Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 25 tahun 2008 tentang kompetensi tenaga perpustakaan sekolah.

Kompas 21 Oktober 2010

G.G. Chowdhury et al. (2008). Librarianship: an introduction. London: Facet.

Prytherch, R. (2005). Harrod’s Librarians’Glossary. 10th ed. Ashgate.

Reitz, Joan M. (2004). Dictionary for libarry and information science. Westport,Conn.: Libraries Unlimited.

Shera. (1976). Introduction to library science: basic elements of library service. Libraries Unlimited.

SNI 7320:2009. Perpustakaan sekolah.  Jakarta: Badan Standardisasi Nasional, 2009.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.

About these ads

Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Author

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,810 other followers

%d bloggers like this: