Sulistyo-Basuki's Blog

Home » Artikel Ilmiah » Tantangan dan Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah di Indonesia: Tinjauan kritis Sejarah Perjalanan Perpustakaan Sekolah di Indonesia dan Proyeksinya Pada Masa Mendatang

Tantangan dan Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah di Indonesia: Tinjauan kritis Sejarah Perjalanan Perpustakaan Sekolah di Indonesia dan Proyeksinya Pada Masa Mendatang

Pendahuluan

Keberadaan perpustakaan sekolah lazimnya didahului oleh sekolah sedangkan sekolah didahului oleh pendidikan. Karena itu pendidikan zaman purba sudah ada baru menyusul sekolah sementara keberadaan perpustakaan sekolah menyusul kemudian hari, mungkin ada rentang waktu berabad-abad. Hal serupa juga terjadi Indonesia, meskipun pendidikan sudah lama ada misalnya sejak tahun 1500 an, namun sekolah baru ada pada abad 19 sedangkan perpustakaan sekolah baru ada pada awal-awal abad 20.

 

Perpustakaan sekolah semasa Hindia Belanda.

 Keberadaan perpustakaan di Indonesia sudah dikenal sejak abad 18, setidak-tidaknya perpustakaan Bataviasche Genootschap van Kunsten sudah didirikan tahun 1778, Koleksi perpustakaan ini kelak menjadi koleksi utama Perpustakaan NasionalRI yang menjadi lembaga negara nondepartemen sejak tahun 1898. Sungguhpun demikian, keberadaan perpustakaan sekolah baru ada pada awal abad 20 dengan berdiurinya berbagai sekolah sebagai bagian dari Politik Etis Belanda.

Perpustakaan sekolah mulai ada setelah tahun 1920an sesudah pemerintah Hindia Belanda mendirikan Volkslectuur, buku-buku terbitan Volkslectuur mengisi koleksi perpustakaan sekolah. Berdasarkan wawancara, perpustakaan sekolah dikelola oleh guru. Perpustakaan sekolah juga menyediakan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar dengan meminjamkan 2 buku selama 14 hari dengan biaya 1 gobang atau 2,5 sen. (Sulistyo, 1995). Meminjamkan buku untuk komunitas sekitar merupakan hal yang baru dan hingga kini belum ada tandingannya.

 

 Zaman Jepang

Tidak ada catatan mengenai keadaan perpustakaan sekolah pada zaman Jepang karena semu tenaga ditujukan untuk Perang Asia Timur Raya. Bagi perguruan tinggi kondisi lebih parah karenapemerintah pendudukan Jepang melarang semua buku yang terbit dalam bahasa belanda, Inggris. Kelak larangan ini dicabut tatkala pemerintah pwndudukan Jepang membuka kembali Geneeskundige Hoge School (The encyclopedia, 2010) menjadi Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran). Semula pengajarnya dokter tentara Jepang lalu digantikan oleh dokter Indonesia. Besar kemungkinan bahwa buku yang digunakan adalah bujku berbahasa Belanda mengingat dalam waktu singkat tidak mungkin dokter tentera Jepang menulis buku ajar kedokteran. Dari segi sejarah, Ika Daigaku muncul dokter yang menjadi pelopor penentangJepang serta tunutan Indonesia merdeka. Dari segi kepustakwanan sekolah, periode ini merupakan periode stagnan, praktis tidak ada kegiatan peprustakaan sekolah.

Periode 1950 an sampai awal 1980an

Keberadaan perpustakaan sekolah ditandai dengan pengriman buku ke sekolah oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Buku tebritan penerbit yang berhubungan langsung dengan penerbit Belanda seperti Wolterns, Dalam konteks UU no 16 tahun 1950 isebutkan tugas bidang peneidikan, pengadjaran dan kebudajaan lampiran ialah mengusahakan perpustakaan rakjat. Perpustakaan ini kelak dikenal dengan sebutan Taman Pustaka Eakjat A,B, dan C. TPR terbagi atas tingkat A,B, dan C. TPR C berada di kecamatan dengan komposisi koleksi 75% tataran Sekolah Rakjat 25% aras Sekolah Menengah Pertama. Taman Pustaka rajkat B terdapat di ibukota kabupaten dengan komponen koleksi 75% tingkat SMP dan 25% tingkat SMA. TPR A terdapoat di ibukota provinsi dengan 75% koleksi tataran SMA dan 25% tataran universitas.

Periode 1960an sampai dengan akhir 1960an merupakan tahap stagnan karena tiada pendirian perpustakaan sekolah akibat situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu. Baru pada tahun 1969 dengan dimulainya Pembangunan Lima Tahun (PELITA) pertama, perpustakaan sekolah memperoleh perhatian, terutama dilakukan oleh Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Perhatian ini diwujudkan munculnya pustakwan fungsional.

Untuk perpustakaan sekolah dikelola oleh guru dibantu oleh murid. Pada peruode pertengahan 1980an masa ini mulai dikenal konsep pustakawan (fungsional). Dalam kaitannya dengan perpustakaan sekolah seringkali timbul pertanyaan apakah dimungkinkan gueu juga menjadi pustakawan. Secara umum jawabannya dimungkinkan dalam hal pekerjaan namun menyangkut tunjangan fungsional pustakawan tidak dimungkinkan. Hal itu banyak ditanyakan mengingat tahun dasawarsa 1980an belum ada tunjangan professional guru seperti pasca 2003.

 

Periode 1986 -2003

Dasawarsa 1980an ditandai dengan keluarnya UU no 2 tahun 1986 tentang sistem pendidikan basional. Pada pasal 27 ayat 2 disebutkan bahwa …tenaga kependidikan meliputi tenaga pendidikm pengelola satuan pendidikan, penilik pengawas, peneliti dan pengembang di bidang pendidikan, pustakawan [diketik miring dari penulis], laboran dan teknisi sumbber belajar. Untuk pustakwan yang bekerja di sekolah, Pusat Pembinaan Perpustakaan kemudian dilanjutkan oleh Perpustakaan Nasional RI berupaya menyusun satuan kredit pustakwan termasuk pustakawan sekolah.

Periode 2003 sampai sekarang

Pada periode ini keluarlah UU no.20 tahun 2003 tenang sistem pendidikan nasional. Untuk pertama kalinya membedakan pengertian tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Sebagai tindak lanjut keluarlah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.25 tahun 2008 terntang standar tenaga perpustakaan sekolah. Yang menyatakan ……kepala perpustakaan sekolah/madrasah yang melalui jalur tenaga kependidikan …harus memenuhi salah satu syarat berikut:

  1. Berkualifikasi diploma dua (D2) Ilmu Perpustakaan dan Informasi bagu pustakawan dengan masa kerja minimal 4 tahun, atau
  2. Berkuaklifikasi diploma 2 (D2) non-Ilmu Perpustakaan dan Informasi dengan sertifikast kompetensi pengelolaan perpustakaan sekolah/nadrasah dari lembaga yang ditetapkan oleh pemerintah dengan masa kerja minimal 4 tahun di perpustakaan.

Peraturan Menteri no.25 tahun 2008 tentang tenaga perpustakaan sekolah menyatakan bahwa lulusan D2 hingga D4 serta Sarjana Ilmu Perpustakaan dapat menjadi kepala perpustakaan sekolah.

Definisi perpustakaan sekolah

Meskipun kita sudah membahas sejarah perpustakaan sekolah di Indonesia, ada baiknya kita menengok sejenak ke pengertian perpustakaan sekolah. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 2379: 20069 perpustakaan sekolah ialah perpustakaan yang berada pada satuan pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah yang merupakan bagian integrasl dari kegiatan sekolah yang bersanagkutan. Perpustakaan sekolah merupakan pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuaqn pendidikan sekolah.yang bersangkutan. Kalau kita melihat sejarah perpustakaan sekolah di Indonesia, maka sedikit banyak fungsi itu sudah dilakukan.

Misi perpustakaan sekolah                     

UNESCO sebagai badan PBB yang bergerak dalam bidang pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan menaruh banyajk perhatian pada perpustakaan sekolah. Maka dalam pembiraan tentang perpustakaan sekolah, kita selalu melintasi Manifesto Perpustakaan Sekolah UNESCO/IFLA serta Pedoman perpustakaan sekolah IFLA/UNESCO (Pedoman, 2006).

Dalam pedoman dinyatakan bahwa perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Dengan kedudukan tersebut maka perpustakaan sekolah memiliki tujuan:

  • membantu dan memperkuat tujuan pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah;
  • memngembangkan dan memperkuat kebiasaan dan kegemaran membaca dan belajar pada murid serta penggunaan perpustakaan sepanjang hayat;
  • memberikan kesempatan memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, imajinasi dan keceriaan;
  • membantu murid dalam pembelajaran dan ketrampilan menilai serta menggunakan informasi, dengan tidak memandang bentuk, format atau media, termasuk kepekaan pada modus komunikasi dengan komunitas;
  • menyediakan akses ke sumber informasi lokal, regional, nasional dan global serta kesempatan yang mengekspos murid pada gagasan, pengalaman dan opini yang beranekaragam;
  • mengorganisasi aktivitas yang mendorong kesadaran dan kepekaan kultural dan sosial;
  • bekerja sama dengan murid, guru, pimpinan sekolah serta orang tua untuk mencapai misi sekolah;
  • memaklumatkan konsep bahwa kebebasan intelektual dan akses ke informasi merupakan hal penting bagi terbentuknya warganegara yang bertanggung jawab dan partisipasi dalam alam demokrasi;
  • mempromosikan membaca, sumber serta jasa perpustakaan sekolah kepada seluruh komunitas sekolah dan komunitas di luar sekolah.

Isu yang dihadapi perpustakaan sekolah sedunia

Isu yang timbul masa kini banyak dihadapi perpustakaan sekolah sedunia, timbul karena perubahan teori, filsafat dan kebijakan pendidikan, perkembangan Teknologi informasi (TI), Internet serta semakin terbukanya akses informasi. Isu yang dihadapi masa kini ialah:

  • Perubahan pola pikir dari gerkan dan manajemen sumber daya informasi serta ketrampilan informasi dan literasi informasi menuju konstruksi pengetahuan dan pemahaman manusia (Todd, 2001, 2012). Bila saat ini kita masih berkutat dengan literasi informasi dan manajemen sumber daya informasi maka kini timbul tuntutan kita bergerak lebih jauh menuju konstruksi (pembangunan secara abstrak) pengetahuan dan memahami manusia. Hal ini dapat dijelaskan dari teori informasi yang dimulai dari peritiswa -> data -> informasi -> pengetahuan. Maka literasi informasi kini ditingjatkan menjadi literasi pengetahuan.
  • Pemberdayaan TI serta Internet yang semakin meningkat engan konsekwensi akibat kemajuannya. Di satu sisi Web 2.0. Web 2.0 merupakan versi baru World Wide Web, namun tidak menyangkut aspek teknisnya melainkan perubahan kumulatif yang terjadi akibat penggunaan Web. Situs Web 2.0 memungkinkan pemakai berinteraksi dan berkolabaorasi dengan orang lain dalam dialog media sosial sebagai creator dari konten yang diciptakan pemakai dalam komunitas maya. Contoh Web 2.0 ialah situs jaringan (jejaring) sosial, blog, wiki, folksonomy, situs berbagi video (contoh nyata YouTube), aplikasi Web dan Mashup (hibrida apaikasi Web artinya menggunakan konten dari lebih dari satu sumber guna menciptakan jasa baru tunggal yang dipaparkan pada antarmuka grafik tunggal, mislanya pustakwan dapat mengkombinasikan alamat danfoto perpustakaanya dengan peta Google untuk menciptakan mashup
  • Semakin meningkatnya e-books.Sejarah menyaksikan bagiamana teknologi berkembang, dahulu bahan pustaka berupa lempeng tanah liat (clay tablet) lalu diganti dengan papyrus yang banyak dijumpai di tepi sungai Nil lalu vellum (kulit sapi muda) akibat embargo papyrus oleh penguasa Mesit lalu ke kertas yang ditemukan di dunia Barat pada tahun 1500an (Cina telah lebih dahulu menemukannya). Kini teknologi buku elektronik semakin baik semisal bobotnya semakin ringan,m bebas dari silau, “font” dapat disesuaikan dengan mata pemakai atau usia mata pemakai, kata asing dapat disentuh dan langsung muncul definisi dalam teks, keberadaan peta elektronik yang memungkinkan pembaca membuat catatan pinggir serta membuat batasan emacam stabillo, teknologi Bluetooth memungkinkan pembaca tukar menukar buku (Mills, 2011). Hebatnya lagi buku elektronik tidak akan mungkin tidak mungkin out-of-print. Penjualan buku elekjtronik emakin meningkat sehingga Bill Gates meramalkan bahwa pada tahun 2020, 90% dari buku yang dijual akan berbentuk buku elektronik (Jacobs, 2000)
  • Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi iCentre yaitu fasilitas pusat dalam lingkungan sekolah di mana teknologi informasi,kebutuhan pembelajaran dan pengajaran ditunjang oleh pustakwan sekolah (Hough, Maret 2011 dan April 2011). Di sini kinsep lama seorang guru, yang berbicara di depan kelas dan papan tulis berubah secara inovatif kelebih banyak mengarah ke konsep pembelajaran swapembelajaran (self-instructional learning). Di dalamnya murid diajar bagaimana belajar melalui bacaan dan referensi yang luas di perpustakaan (Yaacob, Iskandar and Jusoff, 2011). Hal ini memerlukan kerjasama yang erat antara guru dengan pustakawan. Maka sistem pendidikan dan proses pembelajaran lama kini diubah dengandengan menekankan ketrampilan informasi pada murid ; kegiatan ini dikenal dengan nama literasi informasi yang merupakan kerjasama antara guru dengan pustakawan.

 

Isu dan tantangan yang dihadapi di Indonesia

Bila paragraf sebelumnya membahas isu yang dihadapi perpustakaan sekolah pada tataran internasional, maka kini kita mengarah ke isu dan tantangan yang dihadapi perpustakaan sekolah di Indonesia. Adapun berbagai isu yang dihadapi perpustakaan sekolah:

  • Ketergantungan pada Menteri Pendidikan Nasional. Sering dikatakan ganti menteri ganti kebijakan. Dalam kepustakwanan sekolah hal ini Nampak dengan Peraturan Menteri no.25 tahun 2008 tentang tenaga perpustakaan sekolah. Keberadaan Peraturan Menteri ini kemudian dilanggar begitu saja oleh PP no.74 tahun 2008 tentang guru. Sda yang mengganjal tenaga peprustakkaan skeolah yaitu pasal 24 ayat 7, diberi tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan satuan pendidikan dengan beban kerja sesuai dengan beban kerja kepala perpustakaan satuan pendidikan. Pasal ini ditujukan untuk guru yang memiliki jam kerja kurang dari 12 jam lalu kekurangannya diisi dengan jabatan kepala perpustakaan. Untuk menjadi kepala perpustakaan mereka dilatih selama 120 jam walaupun dalam neknyataan a han kurang. Jelas hal ini merendahkan profesi pustakwan (tenaga perpustakaan sekolah) yang belajar 2 s.d. 4 tahun, namun hanya dijadikan staf sementara kepalanya hanya lulus pelatihan yang kurang dari 20 jam. Hal itu menujnjukkan:
  • Tiadanya koordinasi di lingkunan kementerian karena ketika menyusun PP tidak memperhatian Peraturan menteri yang ada mengenai tenaga perpustakaan sekolah
  • Merendahkan profesi pustakwan seolah-olah pustakwan dapat digantikan dengan tenaga yang hanya lulus pelatihan kurang dari 120 jam. Dalam praktik, guru yang menjadi kepala perpustakaan sekolah menyerahkan sepeunhnya ke pustakawan lalu mereka sibuk dengan kegiatan lain. Kalau ada peretmuan pustakwanmereka (guru yang menjadi kepala perpustakaan sekolah) jarang atau tidak pernah datang

Dalam Eksistensi tenaga perpusatakaan sekolah tergantung pada Menteri Penbdidikan Nasional, hal itu terlihat ketika Peraturan Menteri no.28 ditabrak dengan seenaknya oleh PP padahal PP ini berasal dari Kementerian lagi.

  • Ketergantungan pada pemerintah daerah. Pemda terlibat dalam pengangkatan kepala sekolah yang membawahi tenaga perpustakaan sekolah beserta perlengkapannya. Juga kepala daerah (bupati, walikota) membawahu urusan perpustakaan umum, maka perpustakaan sekolah tergantung pada kepala daerah, juga dalam kaitannya dengan perpustakaan umum, Kini cenderung muncunya gabungan perpustakaan umum dengan perpustakaan sekolah artinya koleksi perpustakaan sekolah sebahagian berada di perpustakaan umum; murid dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan umum. Pola ini disebut joint libraries) namun tetap berpijak pada jaringan perpustakaan dan informasi yang lebih luas sesuai dengan prinsip Manifesto Perpustakaan Umum yang dikl\keluarkan UNESCO (Pedoman. 22006).
  • Ketergantungan pada kepala sekolah. Walaupun data Perpustakaan Nasional (2014) menyebutkn adanya 258,326 sekolah dengan 118,599 perpustakaan, penulis yakin bahwa hampir 90 perpustakaan itu tidak memenuhi syarat sebagai ketentuan SNI maupun stanbdar bagunan oleh Kemnterian Pendidikan. Dari 118.599 perpustakaan sekolah,m hanya 172 yang tercatat sebagai tenaga puustakwan fungsional.. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa pustakawan sekolah jaluran fungsional sedikit sekali, hanya 5% dari pustakwan fungsional yang ada.
  • Perpustakaan Nasional selaku Pembina perpustakaan berdasarkan UU (43 tahun 2007, PP 24 no.2014) tidak bersikap tatkala guru dapat menjadi kepala perpustakaan sekolah (Pp no 74 tahun 2008) sementara orang cukup tahu bahwa pelatihan 120 jam bagi guru sama sekali tidak cukup. Dalam praktik hanya 60 jam tanpa ketersediaan sarana seperti DDC, Daftar Tajuk subjek, epdoman deskripsi Kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan kementerian Agama diperlukan untuk meningkatkan jumlah peprustakaan sekolah/madarasah serta pustakawannyta. Dari 51`6,652 sekolah, yang memiliki perpustakaan hanya 237,198 ma,um hanmya 272 saja yang tercatat sebagai pustakwan fungsional (Perpustakaan Nasional, Rapat kerja, 2014).
  • Tugas tenaga perpustakaan sekolah yang semakin berat akibat dampak TI. Mau tidak mau TI akan memasuki ranah sekolah sehingga diakui atau tidak terjadi kesenjangan digital antara satu perpustakaan sekolah dengan perpustakaan sekolah lainnya. Kesenjangan digital ialah kesenjangan yang terjadi antara sebuah kelompok yang punya akses ke Internet serta fasilitas TI dengan kelompok yang tidak punya akses ke Internet maupun fasilitas TI.
  • Pelaksaan SNiteruyata koleksi perpustakaan yang menghendaki anggaran 5% dari anggaran skeolah dengan komposisis fiksi : nonfiksi = 40% : 60%.
  • Pengaitan kegiatan belajar mengajar (KBM) terpisah dari kegiatan perpustakaan sekolah. Maka tidaklah mengherankan bila majoritas perpustakaan sekolah diibartkan mati tak hendak, hidup tak mau.
  • Kegiatan membaca yang terpisah dari koleksi perpustakaan sekolah sehingga tidaklah mengherankan biila generasi sekarang (lulusan SMA) adalah generasi nol baca artinya tidak pernah membaca buku sastra (Kompas, 3 Juni 2014). Hal ini terjadi karena membaca dan mengarang tidak ada lagi disekolah, terlepasa dari kegiatan belajar mengajar.

 

Proyeksi perpustakaan sekolah 2020

Tahun 2020 digunakan karena tahun itu menandai bahwa seluruh Indonesia sudah tercakup jaringan listrik sehingga memungkinkan pengoperasian komputer di seluruh Indonesia. Apa yang terjadi pada tahun 2020?

  • Pendayagunaan TI semakin meruyak sehingga kesenjangan digital semakin kecil.
  • Terbentuknya iCentre pada beberapa perpustakaan sekolah
  • Berkembangnya buku elektronik sehingga koleksi perpustakaan sekolah tidak terbatas pada matericetak dan multimedia melaiankan juga buku elektronik dengan segala keunggulananya berkat kemajuan teknologi
  • Kerjasama yang lebih erat antara guru dengan tenaga perpustakaan sekolah dengan tujuan membedayakan sumber pembelajaran, peningkatan kebiasaan membaca. Diperkirakan sudah mulai ada iCentres terutama pada sekolah internasional.
  • Kecenderungan menggabungkanbeberapa jenis perpustakaan sekolah karena alasan penghematan ruangan, tenaga, keuangan terutama pada perustakaan sekolah yang dikelola yayasan. Kecenderungan ini mulai Nampak akhir-akhir ini.
  • Perilaku membaca akan berubah, dari membaca teks cetak ke membaca teks digital dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Membaca teks cetak

Membaca teks digital

(1) Pembaca membutuhkan stategi yang komprehensif (1)  Pembaca mengembangkan strategi baru untuk menghadapi informasi luwih (information overload)
(2) Pola membaca vertika1 (2) Pola membaca horizontal
(3)Membaca mendalam terus menerus sehingga mengembangkan pemahaman (3) Membaca melintasi bagian dan hanya memayar
(4)Membaca lebih interaktif (4) Membaca bersifat pasif, kurang interaktif
(5) Orang menncetak dari layar tatkala ingin terfokus (5) Orang menghabuskan waktu membaca gaweai mobil seperti HP
(6) Orang-orang berkumpul, memberi catatan, mencata dan berbagi (6) Orang-orang membiarkan bagin yang tak terbaca.

 

Saran

            Berikut ini beberapa saran menyangkut perpustakaan sekolah dan tenaga perpustakaan sekolah:

  • Guru dikembalikan ke habitanya sebagai guru bukan sebagai pustakawan atau kepala perpustakaan; masalah perpustakaan dikelola dan dikepalai sepenuhnya oleh tenaga perpustakaan sekolah bekerja sama dengan pemangkun kepentingan. Bila guru yang kekurangan jam mengajar dapat bekerja di perpustakan sekolah namun tidak sebagai kepala perpustakaan (karena jam pelatihan yang sangat sedikit, dia tidak dirancang menjadi pustakawan), dia dapat menjadi spesialis literasi informasi dengan membuat modul tentang mata pelajaran yang dikuasainya, bersama-sama guru lain membuat modul literasi informasi tentang subjek lain; misalnya modul Sejarah Indonesaia modern, geografi, sosiologi, aljabar dasar dll. Terlepas dari pro kontra Ujian Nasional, pembuatan modul literasi informasi dapat disesuaikan dengan mata ujian pada UN atau sejenisnya.
  • Adanya kegiatan belajar mengajar yang dikaitkan dengan perpustakaan sekolah karena terbukti bila tenaga perpustakaaan sekolah bekerja sama dengan guru akan menghasilkan tataran literasim membaca, pembelajaran, oemecahan masalah dan ketrampilan teknologi informasi dan komunikasi yang lebih baik. Hal ini juga untuk menghindari terjadinya generasi 0 yaitu generasi yang tidak pernah membaca karya sastra Indonesia maupun dunia
  • Penguatan asosiasi profesi serta hubungan yang lebih intens dengan Kemneterian Pendidikan Nasional yang membawahi pendidikan serta dengan Perpustakaan Nasional RI juga aktif mensosialisasikan eksistensi tenaga perpustakaan sekolah pada kepala daerah serta badan kepegawaian a daerah Keberhasilan menyelenggarakan kongres tahunan International Association of School Libraries (IASL) di Denpasar 2013 merupakan pencapaian luar biasa bagi asoaisi pustakwan yang relatif berusia seumur jagung, juga menunjukkan kerjasama yang baik antara Kemnterian Pendidikan dengan Perpustakaan Nasional. Hal itu hendaknya berlangsung terus sehingga tenaga perpustakaans ekolah dapat mengikuti konperensi internasional serta berkiprah di organisasi internasional.
  • Adanya jam kunjungan ke perpustakaan sekolah yang tetap bagi setiap kelas selama 1 sesi pelajaran untuk membiasakan diri dengan fasilitas perpistakaan.
  • Anggaran perpustakaan sekolah sebesar 5% dari anggaran sekolah untuk pengadaan bahan perpustakaan, cetak mauopun boncetak, tidak termasuk anggaran tenaga perpustakaan sekolah dengan komposisi 60:40 untuk karya nonfiksi dengan fiksi. Hal ini sesuai dengan SNI… serta anjuran Unesco.
  • Pemberdayaan tenaga perpustakaan sekolah lulusan program pendidikan formal agar sekolah dapat mendayagunakan tenaga profesional

 

Penutup

Dilihat dari segi ketenagaan, sejarah perpustakaan mulai ada sejak zaman Hindia belanda hingga sekarang. Tenaga yang beerja di perpustakan sekolah semula guru yang merangkap menjadi pustakawan (zaman Hindia Belanda), menyusul hal serupa periode tahun 1950an, tahun 1989 muncul istilah pustakawan yang bekerja di perpustakaan sekolah dan mulai tahun 2003 dikenal istilah tenaga perpustakaan sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan nasional no. 25 tahun 2008, tenaga perpustakaam selkolah dapat menjadi kepala perpustakaan skeolah melalui jalur tenaga kependidikan dengan kualifikasi diploma 2 atau diploma 2 non Ilmu Perpustakaan dan Infortmasi dengan sertifikasi pengelolaaan peprustakaan sekolah/madrasah.

Ketentuan di atas berbenturan dengan Peraturan Pemerintah no.74 tahun tahun 2008 tentang guru, khususnya pasal 24 ayat 7 e yang menyatakan guru yang jam mengajarnya kurang dapat diberi tugas tanbahan sebagai kepala perpustakaan; padahal mereka hanya memperoleh pelatihan 120 jam (dalam praktik kurang) sehingga tenaga pustakawan menggap hal itu sebagai pelecehan profesi.

Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, perubahan filsafat dan kebijakan pendidikan berpengaruh terhadap operasional perpustakaan sekolah.Elektrifikasi membantu perpustakaan sekolah mmendayagunakan TI.

Bibliografi.

Encyclopedia of Library and Information Sciences, Third Edition. 2010.  “School librarianship” & “School libraries” International Encyclopedia ofInformation and Library Science. 2003. “School libraries.”

Haras, Catherine and Stephen Sterling Brasley. 2011. Is information literacy a public concern? A practice in search of a policy. Library Trends, 60(2):361-382.

Hough, Michael. 2011. Libraries as iCentres: helping schools. Access, March:5-9.

——-. 2011. Libraries asa iCentres: helping schools face the future. School Library Monthly, 27(7) April:8-11.

Jacobs, S. 2000. Electronmic publishing: Fad or future? The New Zealand AAuthor, 217, Oct/Nov:3-5.

Kompas, 3 Juni 2014.

Mills, Wayne. 2011. Identifying key components of successful school libraries and libraries. Boobird, 49(1) 2011:62.

Pedoman perpustakaan sekolah IFLA / UNESCO = The IFLA?UNESCO school library guidelines. Jakarta: Perpustakaan Nasional bekerja dengan Departemen Pendidikan Nasional, 2006.

Perpustakaan Nasional. Serang, Banten Rapat Kerja: 2014. Prosiding Rapat Kerja 2014. Jakarta: 2014.

Perpustakaan Nasional. Rapat Kerja: Semarang, 2013. Optimalisasi layanan perpustakaan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat: prosiding rapat koordinasi bidang perpustakaan tahun 2013. Jakarta: 2013.

SNI 7329:2009 Perpustakaan sekolah. Jalarta: Perpustakaan Nasional, 2010.

Sulistyo-Basuki. 1995. Periodisasi perpustakaan Indonesia. Bandung: Remadja Rosdakarya.

Tilley, Carol L. 2011. Reading instruction and school librarians. School Library Monthly, 10(5) December:5-7

Todd, R. 2001. Transitions for preferred futures of school libraries: Knowlwdge, space not information place: connections, not collections: actions mot positions: evidence not advocacy. Keynote address: International Association of School Libraries (IASL) Conference, Auckland, New Zealand, 2001.

Todd, Ross. 2003. Learning in the information age school: opportunities, outcomes and options. IASL Annual Conference, Durbam Afrika Selatan, 2013.

Todd, 2012. Visibility, core standards, and the power of the story: creating a visible future for school libraries.Teacher Librarian, 40(1) Oct2 2012:8-14.

Yaacob, Raja Abdullah, Raja Ahmad Iskandar and Kamaruzaman Yusoff. 2011.

Achieving excellence through information literacy as part of innovative curriculum. www.researchersworld.com 2(1) January:1-10.


Tinggalkan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Author

%d bloggers like this: